Cerita Perubahan

Secercah Asa Perajin Anyaman Eceng Gondok di Aceh Barat

Author: Andhiani Malik Kumalasari / Paulus Enggal Sulaksono
Published: 07/04/2022

Jalanan sedikit berlubang di desa yang pernah dihempas ganasnya tsunami akhir 2004 silam. Di rawa-rawa, ilalang dan batang rumput lain memanjang tanpa bisa dicegah. Sesekali deru ombak Samudera Hindia terdengar gegap gempita


Di Gampong Kubu, eceng gondok tumbuh subur.[1] Tanaman liar ini memang mudah sekali berkembang biak sehingga menjadi hama bagi lingkungan. Kumpulan eceng gondok membuat air di parit tak bisa mengalir lancar dan menyebabkan banjir. Dulu warga gampong ini menganggap eceng gondok sebagai hama. Tanaman pengganggu sekelas gulma. ”Baru waktu ada KKN disini, kami diajarkan cara mengolah eceng gondok menjadi barang kerajinan,” tutur Cut Afni Zahara, Koordinator Usaha Mikro dan Kecil (UMK) EG Craft (yang sebelumnya bernama Kreatif Kubu).[2]

Pada 2017, UIN Ar-Raniry dengan dukungan KOMPAK melaksanakan KKN Tematik Universitas Membangun Desa (UMD) di Gampong Kubu. Salah satu kegiatannya adalah memberi pelatihan menganyam eceng gondok pada 120 perempuan kepala keluarga dari Gampong Kubu, Peulanteu, dan Cot Juru Mudi, Kecamatan Arongan Lambalek.

Pada tahun itu, Kecamatan Arongan Lambalek merupakan wilayah termiskin di Kabupaten Aceh Barat, dimana 36% penduduknya tinggal di garis kemiskinan. Hasil anyaman eceng gondok diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga berkontribusi pada penanggulangan kemiskinan di Arongan Lambalek.

Namun harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Setelah setahun berjalan, satu demi satu pengrajin mundur dan kembali berkebun seperti biasa. “Mereka bilang buat apa payah-payah kerja begini cuma dapat 15 ribu,” tutur Cut Afni. Menurutnya saat itu sulit sekali mencari pasar bagi kerajinan eceng gondok. “Dulu orang bilang kualitas kerajinan kami belum bagus. Kami juga nggak tahu mau dijual kemana. Modal dan keterampilan juga terbatas,” imbuhnya.

Pada 2018, KOMPAK bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menginisiasi model Keperantaraan Pasar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan pengrajin eceng gondok Gampong Kubu. Keperantaraan Pasar adalah model untuk mengembangkan Usaha Mikro dan Kecil atau UMK dengan memperkuat akses pasar melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku UMK, mitra lokal dan swasta. Model ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan pendapatan pelaku UMK.

Untuk meningkatkan kualitas produk kerajinan eceng gondok, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Aceh Barat dengan dukungan KOMPAK mengirim empat pengrajin ke Yogyakarta untuk belajar.[3] Di antaranya Cut Afni dan Mursalim, suaminya. Pelatihan di Yogyakarta membuat asa Cut Afni kembali menyala. Ia mengajak beberapa ibu untuk kembali bergabung dan bertekad untuk membawa kerajinan eceng gondok Gampong Kubu menuju kesuksesan.

Model Keperantaraan Pasar membantu UMK EG Craft untuk terhubung dengan para pihak seperti pemerintah, pelaku pasar atau offtaker, dan lembaga pembiayaan. Hasilnya, UMK EG Craft mampu mendapat modal usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Syariah Indonesia senilai Rp20 juta. Selain itu, kelompok ini mendapat bantuan peralatan produksi dari Dinas Koperasi Provinsi Aceh dan Bank Aceh Syariah serta rumah pengering dari Universitas Syiah Kuala. “Alhamdulillah, semenjak mendapat pendampingan KOMPAK, kami sering mengikuti pelatihan untuk memperbaiki kualitas. Kami juga sering diundang untuk ikut pameran,” tutur Cut Afni.

Kegigihan Cut Afni dan ibu-ibu pengrajin eceng gondok membuahkan hasil. Di tahun 2020, UMK EG Craft mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp143 juta, jauh melebihi pendapatan tahun 2018 senilai Rp15 juta. Meningkatnya pendapatan UMK EG Craft berdampak pada para pengrajinnya, salah satunya Fatimah (50), perempuan kepala keluarga yang biasa menganyam tikar dari eceng gondok. Pendapatan dari menganyam eceng gondok membuat ibu dua anak ini mampu membeli tanah tempat rumahnya berdiri saat ini. “Alhamdulillah, kalau lagi ramai bisa dapat 900 ribu sebulan. Sudah bisa buat beli macam-macam uang eceng gondok itu,” ucapnya.

Sampai akhir 2021, tercatat 40 pengrajin bergabung dalam UMK EG Craft, padahal di awal pembentukannya hanya lima orang yang serius menekuni usaha kerajinan tangan dari eceng gondok ini. Namun, Cut Afni enggan berhenti di sini. Ia terus berjuang mengenalkan kerajinan eceng gondok berikut kelompok pengrajinnya terutama kepada pemerintah selaku salah satu pihak yang memiliki peran untuk memastikan keberlanjutan model Keperantaraan Pasar.


Hasilnya, UMK EG Craft sudah mendapatkan izin operasional dari pemerintah, dan diakui prestasinya sehingga mendapat penghargaan sebagai UMK Naik Kelas dari Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Aceh Tahun 2019.


Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pun menetapkan eceng gondok sebagai produk unggulan berdasarkan SK Bupati Aceh Barat Nomor 719.a Tahun 2019 tentang Penetapan Usaha Kecil Menengah Kreatif Kubu Sebagai Pelaku Usaha Unggulan Kabupaten Aceh Barat.

“Sebagai produk unggulan Aceh Barat, kerajinan eceng gondok ini sudah terkenal tidak saja pada skala nasional tapi juga mancanegara. Kami menyarankan agar UMK EG Craft bisa mendaftarkan usaha mereka menjadi koperasi sehingga dapat lebih mudah mendapat dana bantuan ekonomi kreatif, selain promosi di skala nasional,” terang Husensyah, Kepala Bidang Koperasi dan UKM, Disperindagkop UKM, Aceh Barat.

Untuk memperluas pasar, UMK EG Craft tidak tabu memanfaatkan teknologi digital. Saat ini kerajinan eceng gondok mereka pasarkan melalui platform daring seperti marketplace dan Instagram. Platform daring ini memungkinkan pembeli memesanproduk secara custom. Mereka pun telah mampu menembus pasar retail nasional seperti Sarinah dan IKEA.

Keberhasilan UMK EG Craft adalah contoh bagi UMK lainnya di Aceh. Kegigihan yang mengiringi kolaborasi dengan berbagai pihak serta kreativitas tanpa henti mampu mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. Kemandirian ini bahkan telah teruji ketika pandemi COVID-19 meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan masyarakat termasuk usaha mikro dan kecil. “Alhamdulillah, berkat pendampingan yang sudah diberikan kami mampu bertahan di masa krisis ini. Penjualan kami tetap tinggi. Sampai saat ini sudah lebih dari 1.000 produk kami yang terjual selama pandemi,” terang Cut Afni kala menjadi salah satu pembicara pada diskusi daring bertajuk “Keperantaraan Pasar Strategi Pengentasan Kemiskinan untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional” yang pernah diselenggarakan Bappenas bersama KOMPAK.

Kesuksesan UMK EG Craft juga mendorong anak sulung Cut Afni yang kini sedang berkuliah di Jakarta untuk ikut mengembangkan kerajinan eceng gondok ini. Menurut Cut Afni, seandainya Program UMD dari KOMPAK yang bekerja sama dengan UIN Ar-Raniry tidak masuk ke Arongan Lambalek, eceng gondok di Gampong Kubu masih menjadi hama tanpa guna.


[1] Gampong adalah penyebutan ‘desa’ di Aceh

[2] KKN      : Kuliah Kerja Nyata

[3] UKM    : Usaha Kecil dan Menengah

Cerita Perubahan Lainnya

Cerita Perubahan
APBD Direvisi, COVID-19 Diperangi

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah memaksa pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek, merevisi anggarannya. Refocusing ditempuh untuk men...

Cerita Perubahan
Mendekatkan Layanan, Membuat Setiap Orang Terdata

Betapa senangnya pasangan Darno dan Tursinah. Dua anak mereka, M Zainurrosikin yang lahir pada 2005 dan Hamimah yang lahir pada 2009 akhirnya mendapatkan akta kelahiran secara grat...

Cerita Perubahan
Merintis Perlindungan Sosial Masyarakat Kampung Waren dari SAIK Plus

Di Kampung Waren, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, upaya perlindungan bagi kaum yang termarginalkan itu mulai terwujud sejak hadirnya Sistem Administrasi dan Inform...

Menghadapi

COVID-19